Bab Seratus Dua Puluh Enam: Harga Diri Pria Lebih Berharga dari Emas
Malam itu, saat Hui Niang kembali, ia mendiskusikan berbagai hal dengan Nyonya Zhou. Shen Xi menyimak di samping mereka. Hui Niang menganalisis kelebihan dan kekurangan beberapa lokasi toko, mempertimbangkan lebar fasad, kepadatan arus pejalan kaki di jalan tersebut, serta apakah pemilik properti merupakan orang yang baik hati dan mudah diajak bicara. Tentu saja, yang terpenting adalah harga sewa.
Untuk membuka apotek di ibu kota Prefektur Tingzhou, lokasi terbaik seharusnya berada di dekat Kuil Kaiyuan—tempat penginapan mereka berada—atau di sepanjang jalan besar di utara kota. Namun, di tempat-tempat yang ramai pengunjung tersebut, harga sewa toko sangat mahal. Sebuah toko di pinggir jalan, meskipun tidak terlalu luas, sewanya bisa mencapai dua puluh tael per bulan, angka yang jauh melampaui ekspektasi Hui Niang.
Saat mengelola apotek di Kabupaten Ninghua, pendapatan bulanan dari dua toko miliknya hanya berkisar tiga puluh hingga empat puluh tael perak, artinya setiap toko hanya menghasilkan sepuluh hingga dua puluh tael.
Hui Niang berharap apotek di ibu kota prefektur setidaknya bisa menyamai pendapatan di Kabupaten Ninghua. Namun, jika ia menyewa di lokasi yang ramai, ia justru akan mengalami kerugian. Ia tidak ingin keuntungan dari apotek di kabupaten digunakan untuk menambal kerugian di ibu kota.
"Bibi Sun, menurut saya toko di jalan di sebelah barat kota yang Bibi tunjukkan sebelumnya cukup bagus. Meskipun lingkungan sekitarnya adalah pemukiman penduduk biasa, kelebihannya adalah kepadatan penduduk yang tinggi dan jaraknya tidak jauh dari Gerbang Barat. Jadi, saat warga di luar kota ingin masuk untuk membeli obat, aksesnya sangat mudah," saran Shen Xi.
Nyonya Zhou menggeleng, "Bocah nakal, jangan sok tahu. Kita berbisnis tentu ingin mencari tempat yang ramai. Tidakkah kau mendengar perkataan Bibi Sunmu? Jalan itu bahkan tidak seramai di kabupaten kita."
Shen Xi tersenyum kecut, "Ibu, maksud Ibu... jika kita membuka apotek di tempat yang ramai, maka akan semakin banyak orang yang jatuh sakit? Dan orang-orang yang sakit itu akan datang ke toko kita untuk membeli obat?"
Nyonya Zhou terdiam.
Hui Niang mengangguk, "Kakak, saat saya memilih toko baru di Ninghua dulu, saya juga mempertimbangkan hal ini. Lokasi yang ramai belum tentu mendatangkan banyak pelanggan. Kita berbisnis obat, reputasi adalah yang utama. Jika tidak, meski toko berada di pusat keramaian, warga biasa justru akan merasa canggung dan takut masuk untuk membeli obat karena merasa tempatnya terlalu mewah."
Nyonya Zhou merenung sejenak, lalu tersenyum, "Adik, kau memang pandai berbisnis. Serahkan saja keputusan ini padamu."
Shen Xi hanya bisa cemberut. Ibunya bersikap selektif dalam mempercayai pendapat orang; apa yang ia katakan baru akan dianggap benar jika disetujui oleh Hui Niang.
Hui Niang membandingkan kembali beberapa toko yang telah dilihatnya. Berdasarkan kriteria yang disarankan Shen Xi, ia akhirnya memilih sebuah toko di dekat Gerbang Barat.
Toko itu terletak di sudut jalan, berupa bangunan dua lantai yang cukup luas dengan harga sewa sepuluh tael perak per bulan. Hui Niang sudah merencanakan agar lantai satu digunakan untuk berjualan, dua kamar di lantai dua untuk tempat tinggal, sementara bagian belakang sayap barat bisa diubah menjadi gudang penyimpanan obat. Sayap timur cukup disekat dengan papan kayu untuk dijadikan beberapa kamar bagi lima pelayan, sehingga tidak perlu lagi menyewa rumah terpisah.
Selain itu, halaman belakang juga dilengkapi dengan sumur tua, dapur, gudang kayu bakar, dan toilet, sehingga kehidupan sehari-hari akan sangat praktis.
Untuk keluarga Shen, mereka harus mencari sewaan rumah sendiri. Untungnya, pintu belakang toko menghadap ke gang kecil yang dipenuhi banyak rumah, sehingga tidak sulit untuk mencari tempat tinggal.
Keesokan paginya, Hui Niang dan Nyonya Zhou pergi meninjau toko tersebut, lalu menemukan sebuah rumah kecil dengan tiga kamar di gang belakang.
Setelah itu, Hui Niang menyelesaikan urusan sewa dengan pemilik toko dan membayar sewa untuk setengah tahun ke depan. Selanjutnya, mereka membeli lemari kayu dan laci yang diperlukan untuk apotek. Karena meja kasir yang lama masih bisa digunakan, mereka hanya perlu mengecatnya kembali. Mereka juga menambahkan meja dan kursi, serta lemari pakaian dan tempat tidur untuk setiap orang.
Urusan tempat tinggal keluarga Shen jauh lebih mudah. Setelah sepakat dengan pemilik rumah dengan harga tiga ratus wen per bulan, mereka segera pindah. Setelah satu hari menata barang, mereka pun pindah dari penginapan.
Mendirikan apotek dari nol bukanlah hal yang mudah. Selain memanggil tukang kayu untuk membuat furnitur, Hui Niang juga harus menemui pemasok obat untuk memesan stok awal.
Selain itu, Hui Niang memikul tanggung jawab sebagai pemimpin serikat apotek di Tingzhou. Setiap ada urusan penting mengenai apotek di kota tersebut, mereka akan mencarinya untuk berdiskusi.
Setelah tiba di ibu kota, Hui Niang sangat sibuk. Xiao Yu dan Xiu Er selalu mendampinginya; satu orang yang kuat membantu mengangkat barang, sementara yang lain yang bisa membaca mencatat hal-hal penting untuk ditindaklanjuti.
Nyonya Zhou tetap tinggal di toko untuk mengawasi tukang kayu, sementara Shen Mingjun, yang tidak lagi bekerja sebagai buruh di keluarga kaya, justru merasa bosan karena tidak ada pekerjaan.
"Xiao Lang, karena bengkel percetakan belum dimulai, bagaimana jika Ayah mencari pekerjaan lain agar bisa membantu keuangan keluarga?" tanya Shen Mingjun kepada putranya.
Shen Xi tidak ingin mematahkan semangat ayahnya. Sebagai pemegang saham utama bengkel percetakan, keuntungan yang didapat Nyonya Zhou dalam satu jam jauh lebih besar daripada upah kerja keras ayahnya seharian.
"Ayah, mengapa terburu-buru? Bibi Sun masih sibuk dengan apotek. Setelah semuanya teratur, perhatiannya pasti akan beralih ke bengkel percetakan, dan saat itu Ayah akan memiliki kesibukan," jawab Shen Xi.
Shen Mingjun menghela napas. Ia merasa tidak berguna karena hanya bisa melihat istrinya bekerja keras sementara ia sebagai kepala keluarga hanya bisa berbenah di rumah.
Selama dua hari, ia telah memperbaiki genteng agar tidak bocor, mengecat tembok dengan kapur putih, menaburkan belerang di sudut ruangan untuk mengusir serangga, dan memasang alat penghembus api di dapur sesuai instruksi Shen Xi. Ia bahkan menambahkan penutup pada toilet.
Melihat ayahnya murung, Shen Xi menyarankan, "Ayah, jika Ayah benar-benar bosan, mengapa tidak meminta Ibu berdiskusi dengan Bibi Sun agar persiapan bengkel percetakan diserahkan kepada Ayah?"
Meskipun tidak mengerti istilah yang digunakan putranya, Shen Mingjun mengerti maksudnya dan tersenyum kecut, "Xiao Lang, menurutmu apakah Ayah mampu?"
Shen Xi tersenyum menyemangati, "Jika Ayah sendiri tidak sanggup, bukankah masih ada aku? Dulu saat Ayah sibuk bekerja di keluarga Wang, Ayah masih sempat mengurus peternakan dan mendirikan kedai teh, bukan? Bisnis kedai teh di tangan Ayah dan Ibu sangat sukses."
Mendengar hal itu, Shen Mingjun mengepalkan tangannya. Ia teringat bagaimana dulu ia sendiri yang mengelola kedai teh dengan sukses, dan ia yakin kali ini pun akan sama. Tentu saja, peran Shen Xi dalam keberhasilan itu secara sengaja atau tidak diabaikan olehnya.
Begitu seorang pria memiliki semangat, energi yang terpancar sangat luar biasa. Hari itu juga, Shen Mingjun meminta Nyonya Zhou berdiskusi dengan Hui Niang untuk menyerahkan urusan bengkel percetakan kepadanya.
Nyonya Zhou terkejut dengan antusiasme suaminya. Awalnya, ia hampir menyetujui, tetapi setelah diberi isyarat oleh Shen Xi, ia menyadari bahwa hal ini bisa menimbulkan kecurigaan. Demi menjaga kerahasiaan, ia pun berpura-pura "berdiskusi" dengan Hui Niang.
Saat Hui Niang kembali, Nyonya Zhou menjelaskan situasinya. Hui Niang tersenyum, "Bukankah Kakak sendiri yang memutuskan?"
Nyonya Zhou menghela napas, "Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku yang memegang kendali. Sampai sekarang aku masih merahasiakannya, dan aku merasa sedikit bersalah."
"Apakah Kakak terus-menerus menyembunyikannya dari Kakak Ipar?" tanya Hui Niang.
"Lihat saja nanti. Mari kita lihat apakah dia bisa mengurus bengkel percetakan dengan baik. Jika dia benar-benar mampu, mengapa kita harus pusing memikirkannya? Kita bisa fokus mengurus apotek dengan lebih tenang," jawab Nyonya Zhou.
Hui Niang berkata dengan gembira, "Itu yang saya harapkan. Sekarang semuanya sudah hampir siap, obat-obatan akan segera tiba, apotek tinggal menunggu waktu untuk buka."
"Secepat itu?" Nyonya Zhou terkagum-kagum dengan efisiensi kerja Hui Niang.
"Tidak bisa tidak, sebentar lagi musim dingin tiba, saat di mana orang paling mudah jatuh sakit. Nanti kita harus membicarakan soal pembuatan obat jadi dengan Xiao Lang," ujar Hui Niang. Ia kemudian teringat sesuatu, "Kakak, karena di sini sudah mulai tertata, kita juga harus memikirkan pendidikan Xiao Lang. Apakah sebaiknya kita segera bertanya ke sekolah di kota agar dia bisa segera masuk?"